setelah mencoba berbagai cara, akhirnya saya menemukan sebuah cara untuk mengembalikan partisi yang sudah terhapus/hilang..
senjata yang diperlukan adalah MiniTool Partition Wizard Home Edition. download dulu software tersebut kemudian instal & jalankan software tersebut...
langkah pertama yaitu dengan meng-klik "disk" kemudian pilih "partition recovery".
langkah berikutnya pilih "Scanning Range" ( terserah pilih yang mana ), selanjutnya klik "next"
selanjutnya pada Scanning Method, terserah pilih yang mana, kemudian klik "next"
Setelah proses scanning selesai, pilih partisi yang anda inginkan, kemudian klik "Finish".
Rabu, 12 Maret 2014
Jumat, 31 Januari 2014
masalah dalam pendidikan fisika
MASALAH PEMBELAJARAN FISIKA DAN PENYELESAIANNYA
Fisika adalah ilmu yang mempelajari
tentang gejala-gejala alam dan menjelaskan bagaimana gejala tersebut terjadi. Pelajaran
fisika merupakan pelajaran yang tidak hanya menghafal teori dan rumus,
melainkan pemahaman yang mendalam mengenai konsep-konsep fisika. Banyak siswa
yang dapat menghafal teori dan rumus, tetapi tidak dapat menyelesaikan sebuah
permasalahan. Hal ini karena pemahaman konsep merupakan hal yang sangat penting
yang harus dikuasai siswa dalam pelajaran fisika.
Lemahanya pemahaman kosep siswa
dalam pelajaran fisika dikarenakan siswa lebih cendrung pasif selama
pembelajaran dikelas. Siswa tidak dapat mengembangkan pemikiran dan kreativitas
dalam menyelesaikan masalah selama belajar karena keterampilan berpikir akan
berhubungan langsung keterampilan siswa dalam penyelesaian masalah.
Dalam
beberapa penelitian, siswa yang pasif selama proses belajar dikelas khususnya pelajaran
fisika disebabkan oleh cara guru mengajar. kebanyakan yang ditemui, guru hanya
memfokuskan pada teori dan rumus sehingga siswa beranggapan bahwa pelajaran
fisika merupakan pelajaran yang sulit dan membosankan.
Pada
dasarnya pelajran fisika tidaklah begitu sulit seperti apa yang ada dipikiran
siswa, melainkan karena cara dan metode yang diterapkan oleh guru dalam
mengajar kurang tepat sehingga pelajaran fisika seolah-olah pelajar yang begitu
sulit dan menakutkan.
Keterkaitan antara teknik yang digunakan
guru dengan minat belajar juga dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Hal ini
sesuai dengan yang dikemukakan oleh Surakhmad (dalam Simatupang dan Elvita,
2008:2) bahwa cara mengajar yang menggunakan teknik yang beraneka warna,
disertai dengan pengertian yang mendalam dari pihak guru memperbesar minat
belajar siswa dan akan mempertinggi hasil belajar siswa. Dengan demikian salah
satu upaya yang dapat dilakukan guru adalah penggunaan media pembelajaran dan
mengkaitkannya dalam pembelajaran fisika. Pemakaian media pembelajaran dalam
proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru,
membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa
pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa (Arsyad, 2004:15).
Berdasarkan hal tersebut, maka salah satu media yang
dapat digunakan yaitu melalui media kartun. Kebanyakan siswa yang menggemari
kartun akan lebih mudah untuk mencerna apa yang dilihat melalui gambar-gambar
yang menarik dan lucu. Hal ini akan dapat meningkatkan antusiasme siswa dalam
pelajaran fisika jika menggunakan media kartun ini. Dengan begitu siswa akan
lebih mudah dalam memahami konsep-konsep fisika dan hasil belajar yang
diharapkan akan tercapai.
Dalam tulisan ini, penulis mengacu pada sebuah jurnal
yang bejudul “penggunaan model
pembelajaran creative problem solving disertai
kartun fisika pada pembelajaran fisika di SMP” yang ditulis oleh I ketut
mahardika dkk. Creative Problem Solving (CPS) adalah suatu model pembelajaran
yang berpusat pada keterampilan pemecahan masalah, yang diikuti dengan
penguatan kreatifitas (Pepkin, 2004:1). Metode ini diharapkan mampu untuk
mengembangkan pemikiran dan kreativitas siswa dalam belajar.
Pembelajaran model CPS yang memiliki beberapa tahapan
yang harus dilalui siswa selama dalam proses pembelajaran yang meliputi klarifikasi
masalah, pengungkapan pendapat, evaluasi dan pemilihan serta implementasi.
Aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung tidak hanya mendengarkan
dan mencatat. Bertanya pada teman saat diskusi, mengemukakan pendapat, dan
aktivitas lain baik secara mental, fisik, dan sosial sehingga siswa dapat
menggunakan berbagai cara dengan daya kreatif mereka untuk memecahkan masalah
tersebut.
Penellitian tentang penggunaan CPS ini dilakukan oleh I
ketut mahardika dkk yang dilaksanakan di SMP Negeri 4 Banyuwangi. Dari
penelitiannya, didapatkan hasil antara lain:

Data diatas menunjukkan bagaimana
hasil dari penggunaan metode creative problem solving ( CPS ) disertai kartun
fisika yang diterapkan pada penelitian tersebut. Berdasarkan hasil tersebut
dapat diketahui bahwa Ada perbedaan yang signifikan hasil belajar siswa antara
kelas model Creative Problem Solving (CPS) disertai LKS kartun
fisika dengan kelas tanpa model Creative Problem Solving (CPS)
disertai LKS kartun fisika pada siswa kelas VII SMP Negeri 4 Banyuwangi tahun
ajaran 2012/2013.
Penggunaan metode ini jelas mepunyai
pengaruh terhadap peningkatan pemecahan masalah pada siswa yang semula siswa
sulit dalam pemecahan masalah sekarang menjadi lebih mudah. Selain itu,
aktivitas siswa dalam pelajaran fisika dikelas menjadi lebih aktif dan tentunya siswa akan lebih menggemari
pelajaran fisika.
Metode ini diharapkan dapat membantu
guru dalam mengajar khususnya mata pelajaran fisika dan kualitas siswa dalam
fisika akan menjadi lebih baik.
Rabu, 04 Desember 2013
analisis jurnal
International
Education Journal, 2007, 8(1), 40-63.
ISSN
1443-1475 © 2007 Shannon Research Press.
Prospective teachers’ misconceptions about the
atomic structure in the context of electrification by friction and an activity
in order to remedy them
Mustafa Sarikaya
Faculty of Education, Gazi University, Turkey sarikaya@gazi.edu.tr
Pendidik
sains umumnya sepakat pada gagasan bahwa konsep yang membantu dalam pemahaman
tentang atom dan molekul merupakan dasar dari ilmu pendidikan karena
pembelajaran konsep-konsep lain seperti ikatan kimia, ion, negara materi,
jumlah materi, listrik, reaksi kimia , panas, suhu, dilatasi, cahaya,
difusi, unsur-unsur, senyawa, campuran, osmosis, melarutkan, kinetika kimia,
kesetimbangan kimia, efek dari tekanan dan suhu pada gas yang mungkin hanya
dengan pemahaman konsep atom dan molekul (Griffiths dan Preston , 1992; Nakhleh, 1992).
Dari sudut pandang ini, pendidikan sains penelitian
difokuskan pada konsep bahwa siswa dalam pendidikan pra-universitas memiliki pemahaman
atom dan molekul, dalam konteks sifat partikel materi.
Dalam
40 atau 45 tahun terakhir, hasil penelitian telah menunjukkan bahwa siswa dari
segala usia mengalami miskonsepsi tentang konsep ilmu dasar, terlepas dari mana
mereka berada di bumi. Peran pendidik adalah untuk mengajarkan kebenaran, dan untuk
memperbaiki miskonsepsi yang siswa miliki. Karena pendidik di perguruan tinggi
tidak bisa mencapai masing-masing sekolah atau kelas, jadi guru yang harus
melakukannya. Remediasi miskonsepsi siswa hanya mungkin dilakukan oleh guru yang
dilatih dengan baik dan terbebas dari miskonsepsi. Untuk alasan ini, penting
untuk menyelidiki apakah calon guru mengalami miskonsepsi atau tidak
Masalah
penelitian
1.
Bagaimana pemahaman siswa tentang
atom dan molekul,
2.
Bagaimana pemahaman guru tentang
atom dan molekul, dan
3.
Apakah terjadi miskonsepsi pada
siswa dan guru tentang atom dan molekul.
Metode
Penelitian
ini melibatkan 345 siswa dalam tiga tahun akademik PSTEPFC. Para siswa (PTS) di
PSTEPFCP itu dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama yaitu ilmuwan pasti,
(BS) (orang dalam fisika, (Ps), kimia, (Cs), biologi, (B) dan matematika, (Ms)
dan kelompok kedua yaitu ilmuwan sosial, (SSS) (orang dalam sejarah, geografi,
Turki, Inggris, Perancis, Jerman, sosiologi, psikologi, filsafat, pendidikan
jasmani dan ilmu pendidikan). Selama pendidikan universitas, Ms mempelajari fisika dasar dan lainnya
BS belajar fisika dan kimia dan
kursus biologi, tetapi SSS tidak
belajar program apapun dalam ilmu-ilmu dasar. namun, semua siswa telah
mengambil kursus ilmu lima tahun di sekolah dasar dan menengah dan mempelajari
fisika, kimia dan biologi selama tiga tahun selama pendidikan sekolah menengah
mereka.
Penelitian ini melibatkan dua
sampel dan diberikan dalam dua tahap. Tahap pertama meliputi 177 PTS (103 BS:
17 Ps, 21 Cs, 36 B dan 29 Ms, dan 74 SSS). Kelompok pertama di mana miskonsepsi
diidentifikasi disebut 'kelompok identifikasi. "Tahap kedua meliputi 169
PTS, dan dalam tahap ini, miskonsepsi mengenai efektivitas MAS diperiksa dalam dua kelompok: kelompok eksperimen dan kontrol.
Kelompok eksperimen dan kontrol termasuk 85 PTS (48 BS: 8 Ps, 8 Cs, 16 B dan 16
Ms, dan 37 SSS) dan (47 BS: 10 Ps, 8 Cs, 18 B dan 11 Ms, dan 37 SSS),
masing-masing. Kelompok-kelompok dibentuk oleh direksi PSTEPFCP dan
masing-masing dari mereka dipilih secara acak baik sebagai percobaan atau
kelompok kontrol oleh peneliti.
Hasil
temuan dan kesimpulan
Bentuk miskonsepsi yang berhasil ditemukan
dalam penelitian ini antara lain:
1. Elektrifikasi oleh gesekan yang disebabkan oleh tfansfer
proton.
2. Nomor atom dapat diubah dengan menggosok benda bersama-sama.
3. Setiap elemen dapat dibuat dari elemen lain dengan menggosok
benda bersama-sama.
4. Energi nuklir dapat dihasilkan dengan menggosok benda
bersama-sama.
5. Energi nuklir mengikat cukup rendah untuk membagi inti.
6. Inti atom dapat dibagi dengan menggosok benda bersama-sama.
7. Unit terkecil dari materi adalah proton dan elektron daripada
atom atau molekul.
8. Sebuah atom terdiri dari bidang listrik positif dengan
elektron negatif di dalamnya.
Komentar
Penelitian ini cukup baik karena
melibatkan sampel yang besar dan mencakup semua ilmu pengetahuan. Metode penelitian juga cukup baik dengan membagi
beberapa kelompok dalam belajar.
Pertanyaan
Apakah yang terjadi pada proses
pembelajaran ketika seorang guru mengalami miskonsepsi?
Bagaimana perbedaan tingkat
miskonsepsi siswa setelah dan sebelum pembelajaran?
Bagaimana cara mengatasi
miskonsepsi yang terjadi?
contoh membuat biodata diri
BIODATA
NAMA : RIZAL
TTL : SETINGGAK,
19 APRIL 1994
ALAMAT : JL. NIRBAYA
KOTA BARU NO. 27
NO. TELP/HP : 08967543xxxx
JENIS KELAMIN : LAKI – LAKI
UMUR : 19 TAHUN
STATUS : BELUM MENIKAH
AGAMA : ISLAM
PEKERJAAN : MAHASISWA
INDEKS PRESTASI :
3.04
RIWAYAT PENDIDIKAN : - SDN 13 SETINGGAK
- SMPN
03 PALOH
- SMAN
01 PALOH
- PRODI
PENDIDIKAN FISIKA FKIP UNTAN
Langganan:
Postingan (Atom)



